Kunjungan APCC

Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung berjalannya program Sahabat Air dan Sanitasi (SAS) periode ke-8 yang di donori secara penuh oleh Johnson n Johnson. Pada saat kunjungan, para tamu dan SAS berkolaborasi mengerjakan proyek hasta karya dan vertikal garden.

MONEV Periode ke-8 (2016-2017)

Selain sebagai kegiatan Monitoring dan Evaluasi program, Monev kali ini juga digunakan sebagai ajang pertemuan antar seluruh SAS dari 44 sekolah peserta program. Bermacam-macam lomba diadakan untuk semakin mempererat silaturahmi antara sesama anggota SAS.

Pembagian FLYER

Kegitan ini dilakukan dalam rangka memperluas sebaran informasi mengenai program sahabat air dan sanitasi kepada masyarakat sekolah dan sekitarnya. Selain membagikan flyer, SAS juga menjelaskan kepada masyarakat bagaimana caranya melaksanakan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Hasta Karya

Praktek hasta karya adalah salah satu materi ajar yang diberikan pada saat pendampingan dan bertujuan untuk menambah wawasan cara mengatasi masalah sampah dilingkungan sekitar.

Praktek CTPS

Praktek CTPS yang diajarkan kepada SAS diharapkan dapat membantu memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan oleh tangan yang kotor. Dengan hidup sehat, prosentase ketahanan hidup jadi semakin meningkat.

Kampanye SAS

Pelaksanaan kampanye dilakukan sebagai media penyebaran informasi materi program kepada masyarakat sekolah, guna terciptanya perubahan perilaku hidup yang bersih dan sehat serta perilaku ramah terhadap lingkungan.

Memorandum Of Understanding (MOU)

Penandatangan kesepakatan yang dilakukan diawal program oleh seluruh pihak yang berwenang (Forkami, Johnson n Johnson, Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah), bertujuan untuk mengukuhkan dukungan secara penuh terhadap program yang berjalan di seluruh sekolah peserta program.

Rabu, 08 Maret 2017

Cerita Tentang CTPS Bersama Abelita (SAS Kenari 03 Pagi Jakarta Pusat)

Huana Kheysa Abelita atau biasa di sapa Abel, adalah salah satu Sahabat Air dan Sanitasi (SAS) dari SDN Kenari 03 Pagi yang telah menerapkan cara hidup sehat dengan “cuci tangan pakai sabun” (CTPS). Sebelum mengikuti program SAS, siswi kelas 5 SD ini belum terbiasa mencuci tangan secara rutin. Namun setelah mengetahui informasi mengenai cara cuci tangan yang benar serta lima waktu penting melakukannya pada saat pendampingan, Abel mulai menerapkan secara rutin perilaku tersebut tidak hanya disekolah namun juga dirumah.
                          
Abel menyatakan bahwa ia baru mengetahui bahwa ada waktu-waktu penting CTPS setelah mengikuti pendampingan selama menjadi Sahabat Air dan Sanitasi. Waktu-waktu penting yang dimaksud adalah sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain, setelah memegang benda kotor serta setelah memegang hewan piaraan dan kotorannya.
Abel juga mengajarkan cara CTPS ini kepada anggota keluarganya dirumah dan mereka sangat tertarik serta mendukung untuk melakukan hal ini secara rutin dirumah. Dampak dari rutin melakukan CTPS ini, Abel dan keluarga jadi lebih sehat dan jarang sakit dalam waktu yang lama seperti sebelumnya.
                         
Menurut  Abel, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang diajarkan pada program SAS sangat mudah dilakukan, dimulai dari telapak tangan dan diberi sabun, menggosok antara sela jari, lalu dibelakang tangan, gosok juga ibu jari satu persatu kemudian dilanjutkan di belakang tangan, lalu bersihkan kuku dengan mengettukkannya pada telapak tangan, sentuhan terakhir kedua pergelangan tangan lalu bilas dan keringkan. Tahapan-tahapan ini selain langsung dipraktekkan pada saat pendampingan, juga diajarkan dalam bentuk nyanyian yang menyenangkan, sehingga Abel merasa mudah memahami dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan CTPS: Tangan bersih, kuman mati dan tubuh menjadi sehat!


Penandatanganan Nota Kesepakatan Program Sahabat Air & Sanitasi Periode 8 (2016-2017)


Untuk mengukuhkan berjalannya program SAS periode ke-8 (2016-2017) ini, Forkami menyelenggarakan lokakarya penandatanganan nota kesepakatan yang mengundang perwakilan 44 sekolah peserta program, perwakilan dinas pendidikan DKI Jakarta dan Kota Depok, juga pihak Johnson & Johnson selaku donor yang mensponsori jalannya program ini dari awal hingga akhir.
Lokakarya ini diadakan untuk menyamakan pandangan mengenai program hingga masing-masing sekolah mengetahui dengan jelas arah dan tujuan diadakannya program ini selama kurang lebih 6 bulan ke depan dan dapat mendukung secara penuh selama program ini berjalan.
Acara yang diadakan pada Kamis, 3 November 2016 ini bertempat di kantor Kemenkes, Jl. Percetakan Negara no.29 gd.D lt.4 Jakarta Pusat. Para undangan yang terdiri dari para kepala sekolah dan guru pendamping telah mulai memenuhi ruangan sejak pukul  7.30 wib. Tepat pada pukul 9.00 wib acara dimulai dan dibuka oleh perwakilan dinas pendidikan DKI Jakarta, Bapak Wawu sebagai tanda program ini secara aklamasi dan formal telah dibuka dan dapat dijalankan dengan dukungan penuh di 44 sekolah peserta program SAS periode ke-8.
                           
Meskipun perwakilan Johnson & Johnson juga perwakilan dinas pendidikan Kota Depok berhalangan hadir karena satu dan lain hal, namun acar tetap dapat berjalan dengan lancar. Setelah pembukaan program yang dilanjutkan dengan foto bersama, acara berikutnya adalah pemaparan program secara detail kepada seluruh peserta. Paparan tersebut disampaikan oleh Bapak Sutjipto selaku perwakilan dari Forkami. Selain tentang visi dan misi program, juga ditampilkan fakta-fakta mengenai kondisi air dan sanitasi di Indonesia hari ini. Berbagai macam video dan foto mengenai perkembangan program dari periode sebelumnya juga ditampilkan untuk memperkaya gambaran tentang program kepada seluruh perwakilan 44 sekolah peserta program.
                      
Pada akhirnya acara lokakarya ini ditutup dengan penandatanganan nota kesepakatan secara bersama-sama sebagai pengukuhan bahwa seluruh peserta sekolah, Forkami selaku penyelenggara,  dinas pendidikan DKI Jakarta dan kota Depok serta Johnson & Johnson telah sepakat untuk mendukung program ini, agar dapat berjalan sebagaimana mestinya dan memberikan manfaat serta perubahan yang signifikan di lingkungan sekolah masing-masing.
                           




Succes Story dari SDN Pegadungan 11 Pagi Jakarta Barat & SDN Pengadegan 07 Jakarta Selatan


Setelah program SAS periode ke-8 ini selesai, maka tahap keberhasilan program ini selanjutnya akan sangat tergantung dari kesiapan masing-masing sekolah peserta program. Beberapa sekolah telah menyiapkan hal ini dengan mengeluarkan beberapa kebijakan yang mendukung  program SAS sebagai ihktiar pembudayaan perilaku menjaga kesehatan diri dan melestarikan lingkungan. Diantaranya adalah SDN Pegadungan 11 Pagi Jakarta Barat. Di sekolah ini ada beberapa program pendukung SAS seperti :
  • Program Pemilahan Sampah→ pada program ini sekolah menyediakan tiga jenis bak sampah yang dibuat untuk memisahkan sampah organik, anorganik dan B3. Dengan demikian perilaku memilah sampah dapat difasilitasi dengan efektif bersama program ini
  • Grean House & Duta Lingkungan → digagas seiring dengan dicanangkannya program adiwiyata. Pada program ini, ada lima kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan para duta lingkungan dan juga SAS secara sinergis, yakni; pembibitan, penanaman, penyemaian, perawatan dan pemeliharaan tanaman serta budidaya tanaman.
Esensi dari program ini adalah untuk menjadikan sekolah memiliki sumber oksigen yang memadai, bersih dari polusi udara, sekolah menjadi hijau dan segar, nyaman bagi seluruh warga sekolah, sehingga dapat menunjang kegiatan belajar mengajar yang kondusif. Dengan adanya program yang bertujuan menciptakan sekolah sehat ini, maka program SAS terkait sekolah sehat dapat dilanjutkan secara berkesinambungan di sekolah ini.
Selain itu, ada SDN Pengadegan 07 Jakarta Selatan yang juga memiliki kebijakan pendukung program SAS, yakni program “Bawa Bekal Sehat” yang diberlakukan setiap hari kamis. Program ini diadakan untuk membiasakan anak-anak tidak jajan sembarangan dan membawa bekalsehat hingga resiko terkena penyakit akibat jajan sembarangan dan mengkonsumsi makanan tidak sehat dapat diminimalisir. Setiap siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, diwajibkan membawa makanan/ bekal sehat yang mengandung sumber karbohidrat, protein dan vitamin lengkap seperti  nasi, lauk pauk dan sayur mayur. Di awal hal ini agak sulit karena tidak banyak anak-anak yang gemar menyantap sayuran. Namun seiring dengan waktu, pembiasan ini sudah mampu berjalan dengan cukup baik. Anak-anak semakin terbiasa mengkonsumsi sayur mayur dan beraneka jenis makanan bergizi lainnya meskipun masih ada sebagian yang belum bisa mengikuti. Untuk membuat program ini dapat berhasil secara keseluruhan, kekonsistenan pihak sekolah dalam memberlakukan program  harus terus dijaga. Orang tua pun harus ikut turut andil mendukung program ini dengan terus berupaya menyiapkan bekal bergizi bagi anak-anak diluar dari jadwal bekal sehat yang telah disepakati.
               
Program bekal sehat ini pada prakteknya oleh sekolah disinergikan denga program Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang telah diajarkan pada SAS. Sehingga dengan dua poin penting, yaitu bekal sehat dan CTPS, sekolah ini telah berupaya meningkatkan ketahanan hidup siswa didiknya dari segala penyakit yang disebabkan oleh makanan tidak sehat dan tangan yang kotor. Peningkatan ketahanan hidup ini prinsipnya sesuai dengan salah satu tujuan dari dilaksanakannya program SAS di 44 sekolah peserta.
           




Meretas Ketahanan Hidup Melalui Barang Bekas

Dr. Aidan Cronin, Ketua Program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) dari UNICEF Indonesia mengatakan bahwa “sebanyak 88% angka kematian anak akibat diare disebabkan oleh kesulitan mengakses air bersih dan keterbatasan sistem sanitasi.”     
Fakta diatas tentu telah menimbulkan permasalahan bagi keberlangsungan generasi yang akan datang. Air bersih yang sulit diakses salah satunya diakibatkan oleh sumber air yang telah tercemar sampah. Butuh proses yang lama dan mahal untuk dapat menjernihkan air yang telah terkontaminasi. Sementara, generasi kita tidak bisa menunggu untuk dapat terus tumbuh dan berkembang dengan layak dan bahagia.
Merespon hal tersebut dalam program sahabat air dan sanitasi ini, permasalahan sampah juga menjadi bahasan materi tersendiri pada saat pendampingan. Selain mengenal berbagai macam jenis-jenis sampah, SAS juga diberikan informasi bagaimana cara mengolah sampah agar dapat menjadi sahabat yang ramah bagi lingkungan sekaligus dapat meningkatkan ketahanan hidup generasi yang akan datang. Mengapa demikian? Sebab jika lingkungan terbebas dari sampah maka akan semakin kecil kemungkinan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kotor menjangkiti generasi penerus bangsa. Semakin banyak kesempatan anak-anak yang akan hidup sehat dan bahagia sehingga mampu melakukan banyak hal positif untuk dapat meraih cita-citanya.
            
Selain itu, sampah yang serius diolah dengan tepat akan memberikan peluang pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi para generasi penerus bangsa. Barang bekas yang tak dapat lagi hancur  dapat di daur ulang menjadi berbagai macam barang “pakai kembali”  yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dengan daya jual yang cukup menjanjikan. Kita pun telah sama-sama tahu, berapa banyak kisah sukses para pengusaha muda yang telah berhasil menjadikan barang bekas sebagai modal untuk memulai bisnis usahanya bagi kemashlahatan masyarakat.
 
Oleh karenanya, materi hasta karya yang diberikan pada saat pendampingan program SAS ini diharapkan mampu mengurai permasalahan sampah disekitar lingkungannya menjadi ide-ide inovatif yang bernilai ekonomis. Lingkungan bersih, pemberdayaan ekonomi meningkat dan akan semakin tinggi harapan negri ini kelak dipimpin oleh para agen perubahan yang cerdas berprestasi sekaligus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan.

Menyebar Manfaat Melalui Pembagian Flyer

Secara garis besar, sasaran program ini dibagi menjadi dua yakni, sasaran langsung (kepala sekolah, guru pendamping, 5 SAS) dan sasaran tidak langsung (siswa selain SAS, guru, orang tua SAS, orang tua siswa selain SAS, anak-anak kelompok  usia 5-9 dan kelompok usia 10-20, orang dewasa, penjaga kantin juga penjaga sekolah).  
Untuk mencapaiseluruh  target sasaran program, pada periode ke-8 ini, selain berkampanye disekitar sekolah sahabat air dan sanitasi juga turun lapangan melakukan penyebaran informasi ke masyarakat diluar sekolah dengan membagikan flyer berisikan informasi tentang konten program. Masing-masing tim SAS yang seluruhnya berjumlah 44 tim, mendapatkan 350 flyer untuk dibagikan kepada target sasaran penerima manfaat program di lapangan.
Tugas turun lapangan ini dibagi menjadi dua kali waktu yang berbeda, yaitu diawal bulan November serta di pertengahan bulan Desember. Lokasi pembagian flyer di antaranya sekitar lingkungan sekolah, pasar, puskesmas, pemukiman warga, mall, taman, dll. Dengan didampingi oleh kakak fasilitator, SAS terlihat sangat antusias membagiakan flyer tersebut pada setiap sasaran yang mereka temui. Selain mencatat usia dan jumlah dalam tabel yang telah disediakan, mereka juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat menjelaskan tentang program ini secara singkat dan jelas pada target sasaran. Tujuan pencatatan data penerima flyer adalah untuk mengontrol apakah flyer yang dibagikan telah sesuai dengan target kelompok usia yang telah ditetapkan sebelumnya.
                             03
Harapannya dengan telah dibagikannya flyer(±4500 flyer) tentang program kepada masyarakat umum, maka akan semakin banyak kesempatan yang terpapar informasi mengenai pentingnya pelestarian air dan juga menjaga sanitasi diri & lingkungan. Sebab permasalahan tentang air dan sanitasi ini akan segera dapat teratasi dengan tumbuhnya kesadaran pada masyarakat umum untuk sama-sama berupaya menjaga lingkungan sekitar layaknya yang sedang dilakukan oleh para sahabat air dan sanitasi saat ini.

                    page 3

Monitoring dan Evaluasi SAS Periode ke-8

Kamis, 9 Februari 2016 adalah saat yang dinanti-nanti oleh seluruh peserta program sahabat air dan sanitasi periode ke-8. Betapa tidak, karena hari itu merupakan hari penutupan program sekaligus hari pertama para sahabat air dan sanitasi berkumpul saling tatap muka satu sama lain. Jika sebelumnya masing-masing sekolah menyelenggarakan pendampingan di wilayah sekitar sekolah saja, maka pada hari itu seluruh nya dipertemukan dalam aula Gelanggang  Remaja Rawamangun untuk mengikuti kegiatan Monitoring dan Evaluasi program dari awal hingga akhir.
Sejak pukul 7 peserta sudah mulai berdatangan satu persatu memenuhi aula. Setelah mengisi daftar hadir, para SAS diajak untuk bermain games sampah sambil menunggu peserta lainnya. masing-masing SAS diberikan satu buah jenis sampah, lalu mereka diminta untuk menggolongkan jenis sampah tersebut dan menempelkannya  pada salah satu gambar tempat sampah bertuliskan organik, anorganik dan B3. Di pinggir kanan dan belakang  aula juga telah disediakan pojok exhibition yang menyajikan berbagai media pendampingan, media kampanye juga berbagai hasta karya dan poster kreasi Sahabat Air dan Sanitasi.
                     2
Selain 44 sekolah peserta program, hadir juga perwakilan dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan Kota Depok. Acara dibuka dengan pengumuman tiga sekolah terbaik, yaitu SDN Kalimulya 4 Depok, SDN Pegadungan 11 Pagi Jakarta Barat dan SDN Manggarai Selatan 03 Pagi Jakarta Selatan. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan performance dari  11 kelompok. Berbagai macam kreatifitas yang diambil dari tiga tema besar materi pendampingan, yaitu air, sanitasi dan sampah, para sahabat air dan sanitasi tampil dengan berani dan memukau. Kegiatan selanjutnya diisi dengan perlombaan membuat mading yang juga diikuti oleh 11 kelompok dengan formasi yang dirubah dari 11 kelompok performance sebelumnya. Hal ini dilakukan agar pesera memiliki waktu untuk saling mengenal satu dengan lainnya dengan kelompok yang berbeda dari sebelumnya. Setelah mading selesai di buat, masing-masing penanggung jawab kelompok mading mempresentasikan hasil karya madingnya kepada para juri untuk ditentukan pemenangnya. Acara berakhir pada pukul 13.00 yang ditutup dengan pengumuman lomba poster, performance, mading serta pembagian makan siang. Selamat jumpa lagi! selamat menjadi agen perubahan lingkungan cilik!
5 performance sas (4) lomba mading sas (3)


APCC di SDN Manggarai Selatan 03 Pagi Jakarta Selatan

Hujan rintik-rintik tak mengurangi antusiasme siswa-siswi  SDN Manggarai Selatan 03 Pagi Jakarta selatan dalam menyambut tamu-tamu dari Asia Pacific Contributions Committee (APCC) pada hari Jumat, 14 Oktober 2016. Kedatangan APCC pagi itu untuk meninjau secara langsung berjalannya program Sahabat Air dan Sanitasi (SAS) periode ke-8 yang di donori secara penuh oleh Johnson & Johnson.


                    2
Rombongan APCC yang terdiri dari beberapa  negara Asia tersebut tiba di lokasi pada pukul 8.30 pagi. Setelah mendapat sambutan hangat berupa tarian tradisional dari siswa-siswi SDN Manggarai 03 Pagi Depok, para tamu menuju tenda yang telah disediakan untuk mengikuti kegiatan sesi satu, yaitu prosesi pembukaan. Selain beberapa sambutan dari pihak sekolah, Forkami dan perwakilan Johnson & Johnson, acara pembukaan ini juga diisi dengan berbagai penampilan sahabat air dan sanitasi dari beberapa sekolah yang diundang untuk mendukung acara ini. SAS yang diundang diantaranya berasal dari SDN Pondok Kelapa 10 Pagi Jakarta Timur, SDN Pondok Labu 14 Pagi Jakarta Selatan, SDN Ragunan 07 Pagi Jakarta Selatan. Acara pembukaan ini ditutup dengan testimoni dari Fikri, salah alumni SAS periode-6 asal SDN Cempaka Putih Barat 07 Pagi Jakarta Pusat.
4  4
Masuk ke sesi dua, tamu undangan beserta seluruh peserta kegiatan disajikan oleh volentary activity. Pada kegiatan ini peserta dibagi menjadi dua kelompok besar yang melakukan dua kegiatan inti diantaranya menghias tempat sampah dari ember cat bekas dan membuat vertical garden dari botol minuman bekas. Selama kurang lebih 30 menit, para peserta diberikan waktu untuk berkreatifitas dalam kerja tim yang kompak.
IMG20161014103440   3
Setelah pengerjaan dua kegiatan inti tersebut selesai, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil kerja tim nya di hadapan seluruh peserta acara kunjungan. Kemeriahan acara ini kemudian diakhiri dengan foto bersama.
5        5




Pejuang Dibalik Terbentuknya Agen Perubahan Lingkungan Cilik

Seminggu sekali SAS diberikan pendampingan dengan jadwal yang telah disepakati. 11 fasilitator ditugaskan untuk melakukan pendampingan tersebut diluar jam belajar di sekolah. Masing-masing fasilitator bertanggung jawab terhadap 4 sekolah yang berbeda, dan menghasilkan suasana pendampingan yang kondusif adalah ketrampilan awal yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator program Sahabat Air dan Sanitasi (SAS).
Bukan hal mudah untuk membentuk sebuah hubungan yang dekat dengan SAS di  4 sekolah yang berbeda. Masing-masing SAS juga sekolah memiliki karakter khusus yang tak sama, sehingga dalam mengadakan pendekatan, fasilitator dituntut untuk kreatif demi menciptakan iklim pendampingan yang kondusif. Selain itu banyaknya waktu pendampingan yang dilakukan setelah jam belajar disekolah, dimana SAS sudah dalam kondisi lelah untuk menerima pelajaran, adalah tantangan tersendiri bagi para fasilitator untuk tetap mengkondisikan jalannya pendampingan dengan maksimal. Oleh karena itu, berbagai metode dan media pendampingan yang menarik merupakan syarat wajib agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh SAS.
           
11 fasilitator SAS di periode ke-8 ini berasal  dari latar belakang yang berbeda. Sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang ingin mengisi waktu luangnya untuk kegiatan bermanfaat. Seminggu sekali sebelum terjun untuk melakukan pendampingan, para fasilitator ini berkumpul membahas strategi juga progresivitas pendampingan agar dapat dievaluasi bersama-sama. Saling tukar pengalaman dan informasi selama pendampingan di minggu sebelumnya membuka ruang diskusi yang dinamis sehingga tercetus ide-ide segar sebagai solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.
Keprihatinan akan kondisi lingkungan yang kurang memadai bagi generasi selanjutnya, membuat para fasilitator sepakat untuk menjadikan program SAS ini sebagai pintu yang menjembatani terbentuknya agen-agen perubahan lingkungan cilik di wilayah cakupan peserta program. Selain bertujuan untuk menjaga kelestarian bumi dan isinya, diharapkan melalui agen-agen perubahan lingkungan cilik ini, ketahanan hidup generasi yang akan datang akan lebih terjaga.

Persiapan Menjelang Program SAS Periode ke-8

Bersama Johnson & Johnson tak terasa program Sahabat Air dan Sanitasi (SAS) telah memasuki periode yang ke-8. Segenap persiapan telah direncanakan demi kelancaran program. Kali ini, sekolah yang akan dilibatkan sebagai peserta program berjumlah 44 sekolah. Untuk itu dibentuk sebuah tim khusus yang mengurus seluruh kebutuhan persiapan program.
Tim yang dipilih berjumlah 7 orang yang terbagi lagi menjadi tiga kelompok kecil. Masing-masing kelompok bertugas men-survei sekolah-sekolah yang memenuhi syarat  untuk mengikuti program. Setelah masing-masing tim mensosialisasikan dan mengadakan wawancara seputar program dengan Kepala Sekolah, maka bagi sekolah yang berminat diminta untuk menandatangani draft persetujuan mengikuti program yang telah disediakan oleh tim survei. Dari hasil survei tersebut, diperoleh  44 sekolah (Jakarta Pusat : 8 Sekolah, Jakarta Utara : 4 Sekolah, Jakarta Barat : 5 Sekolah, Jakarta Selatan : 9, Jakarta Timur : 10 dan Kota Depok : 8 Sekolah) yang bersedia ikut dalam program periode ke-8 ini.
         
Langkah selanjutnya tim survei akan kembali ke sekolah tersebut untuk mengadakan seleksi siswa yang akan dipilih menjadi sahabat air dan sanitasi. Seleksi siswa yang dilaksanakan di tiap sekolah peserta program melibatkan 10-15 siswa kelas 5 terbaik nya untuk mengikuti tes intepretasi gambar. Setelah itu penilaian terhadap calon SAS dilaksanakan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Salah satu kriteria terpenting adalah siswa yang memiliki keberanian mengeluarkan pendapatnya di muka umum dengan percaya diri. Berdasarkan hasil penilaian yang diolah oleh tim survei, maka terpilihlah 5 siswa kelas 5 terbaik sebagai SAS yang akan mengikuti pendampingan secara rutin selama 5 bulan kedepan.


         

Dengan terpilihnya 5 sahabat air dari masing-masing sekolah, maka tugas tim persiapan program telah selesai. Setelah itu, perjalanan program ini selanjutnya akan diteruskan oleh 11 fasilitator terpilih yang masing-masingnya memegang tanggung jawab terhadap 4 sekolah yang berbeda.


Kampanye Untuk Masa Depan Bersama Yang Lebih Baik

Tak bisa dipungkiri untuk menciptakan lingkungan bersih, sehat dan bersahabat bagi bumi dan isinya merupakan tugas kita bersama-sama. Masing-masing dari kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjadikan bumi yang kita huni ini tetap aman dan nyaman untuk ditinggali. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun sudah harus diikutsertakan dalam misi ini sedini mungkin sesuai dengan kapasitasnya. Memahami bahwa bumi ini perlu dijaga sejak dini akan menumbuhkan rasa kepedulian dan kepekaan yang tinggi pada anak-anak. Anak-anak yang tumbuh dengan rasa peduli dan kepekaan yang tinggi kelak akan mampu memimpin peradaban di masa depan dengan cerah dan gemilang.
Dalam hal ini, SAS juga turut andil berpartisipasi menjadi agen perubah lingkungan cilik dengan melakukan pelestarian lingkungan sejak dini. Perilaku menghemat air, membuang sampah sesuai jenis serta mengolahnya menjadi barang yang berguna, dan juga menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar tetap sehat merupakan langkah awal untuk membentuk kepedulian dan kepekaan yang baik. Tak hanya sampai disitu, mereka juga turut mengkampanyekan seluruh pesan-pesan kebaikan ini untuk dapat ditularkan kepada masyarakat sekolah dan sekitarnya. Aksi kampanye ini rutin dilakukan setelah materi demi materi telah mereka terima dengan baik.

Pada saat latihan, mereka belajar berbicara dengan singkat, pada dan jelas dalam menyampaikan ringkasan materi untuk disebarluaskan secara umum. Berbagai macam metode dilakukan agar kampanye yang diselenggarakan dapat dipahami dengan baik oleh audiens. Ada yang dengan cara orasi, pertunjukan boneka tangan/puppet show, lagu-lagu, aksi teatrikal/drama, penjelasan gambar-gambar, dll. Pelaksanaan kampanye ini biasanya dilaksanakan pada saat upacara bendera, olahraga massal, pramuka atau pun dari kelas ke kelas.

Pendampingan Yang Bersahabat

air bersih, air bersih, bikin sehat dan kuat. Dikelola lebih dulu sebelum digunakan... jangan sampai kau cemari, sumber air yang ada.. sungai-laut, danau-waduk, air sumur dan tanah... semuanya kita jaga jangan sampai tercemar.. agar bumi kita ini.. lestari selamanya...”
Potongan lagu ini adalah salah satu metode yang di gunakan dalam pendampingan program SAS. Pada periode ke-8 ini, pendampingan dilakukan selama ± 5 bulan. Seminggu sekali, kakak fasilitator yang bertugas dimasing-masing sekolah mengadakan kunjungan rutin untuk memberikan pendampingan kepada 5 siswa yang telah lulus seleksi sebagai Sahabat Air dan Sanitasi. Materi inti program ini terdiri dari tiga tema besar yaitu: Air, Sanitasi dan Sampah.
           
Pada tema air, SAS diberikan informasi mengenai manfaat air, cara mengolah air sebelum digunakan, cara menghemat air, dampak pencemaran air serta cara melestarikan air agar tetap ada di masa yang akan datang. Sementara pada  tema sanitasi, SAS menerima informasi mengenai  langkah-langkah memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan dengan cara berperilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu juga disosialisasikan bagaimana caranya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat sebagai penunjang tercapainya masyarakat sekolah yang berprestasi. Dan, pada tema sampah SAS belajar membedakan jenis-jenis sampah, dampak sampah yang mencemari lingkungan, juga cara mengolahnya melalui metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle)

Selain lewat lagu-lagu yang menarik, pendampingan juga dilaksanakan dengan cara berdiskusi, brain storming, permainan kartu, intepretasi gambar, turun lapangan, menonton video, dll. SAS juga diajarkan kemampuan public speaking sebagai bekal untuk mengkampanyekan keseluruhan materi kepada masyarakat sekolah dan sekitarnya. Pendampingan yang bersahabat adalah salah satu cara untuk membentuk bonding yang kuat antara fasilitaor dan SAS sehingga seluruh pesan kebaikan yang terkandung dalam tiga tema besar program dapat dipahami sekaligus terinternalisasi kedalam kehidupan sehari-hari SAS.

Selasa, 07 Maret 2017

Ajakan Hidup Bersih & Sehat Oleh SAS SDN Kalimulya 4 Depok

Sabtu, 4 Februari 2017 lalu adalah hari yang cukup bersejarah bagi SAS SDN Kalimulya 4 Depok. pada hari itu mereka diberi kesempatan untuk berkampanye di luar sekolah dan dalam acara yang cukup penting di kota Depok. Acara ini dihadiri oleh Ibu Walikota Depok, Elly Farida beserta jajaran lembaga yang berwenang di bawah naungan pemkot Depok,  juga dihadiri oleh Unit Pengawas Sekolah (UPS) sekaligus seluruh kepala sekolah yang berada di gugus kecamatan Cilodong Kota Depok, perwakilan Polres Depok, serta Lurah dan Camat setempat.  Acara yang dimaksud adalah Roadshow Edukasi Stop Kekerasan Pada Anak yang diadakan secara berkala dibeberapa titik-titik sekolah oleh pemkot Depok. Roadshow ini bertujuan untuk mensosialisasikan informasi tentang bagaimana caranya agar anak-anak  dapat menjaga diri dari tindak kekerasan yang dilakukan baik oleh orang dekat ataupun orang asing. Harapannya jika anak-anak telah mampu menjaga diri, maka hal ini akan semakin memudahkan mereka untuk dapat menggapai cita-cita yang diinginkan. Termasuk salah satunya menjadi agen perubahan cilik yang berjuang untuk melestarikan lingkungan seperti yang dilakukan oleh para sahabat air dan sanitasi.
Pada kampanye kali ini, SAS SDN Kalimulya 4 Depok mempresentasikan kepada seluruh peserta yang hadir tentang bagaimana caranya menjaga kebersihan diri dan lingkungan melalui penjelasan singkat dan padat yang disertai oleh gambar-gambar yang menarik. Selain itu, mereka juga menyampaikan berbagai ajakan positif melalui lagu-lagu yang mudah untuk diingat dan di aplikasikan sesuai dengan pesan-pesan yang ada pada lagu. Di sesi terakhir, SAS SDN Kalimulya 4 Depok berinisiatif menyematkan pin Sahabat Air dan Sanitasi kepada Ibu walikota Depok, Ibu ketua Pengawas Sekolah dan Bu Camat sebagai apresiasi penghargaan telah memberi kesempatan SAS SDN Kalimulya untuk tampil berkampanye menyampaikan ajakan untuk hidup bersih dan sehat serta menjaga lingkungan sekitar agar tetap lestari selamanya.

                 

Rabu, 01 Maret 2017

Talkshow Dunia Sehat "Air Kotor Sarang Penyakit" (DAAI TV)

Dalam rangka memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, program Talkshow "Dunia Sehat" DAAI TV kali ini mengundang FORKAMI untuk membahas tentang "Air Kotor Sarang Penyakit". 

Perwakilan FORKAMI @Talkshow "Dunia Sehat" DAAI TV
Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup, terutama bagi manusia. Kehidupan manusia akan terancam apabila tidak ada air bersih. Air kotor merupakan salah satu media penyebaran bakteri dan virus yang bisa menyebabkan beberapa penyakit seperti tipes, diare dan kolera.

United Nation Evironment Program (UNEP) mengungkapkan 50% sungai di wilayah Asia telah tercemar, setidaknya 3,5 juta orang meninggal setiap tahun karena kolera dan tipes.

Bagaimana kondisi air sungai atau kali di Indonesia yang sebagian besar masih digunakan untuk mencuci baju, perlengkapan masak bahkan untuk mandi.

Kira-kira banyak air sungai atau kali yang tercemar tidak ya?

Dalam Talkshow "Dunia Sehat" kali ini, dibahas tentang air, apa aja yang terkandung pada air yang kotor, dan menyebabkan berbagai penyakit atau sarang penyakit apa saja.

Untuk mengetahui bahasan lengkap Talkshow "Dunia Sehat-Air Kotor Sarang Penyakit", klik link di bawah ini

Sahabat Air dan Sanitasi Periode 2016-2017

Berikut ini beberapa kegiatan Program Sahabat Air dan Sanitasi periode 2016-2017 yang terekam oleh lensa kamera.