Kunjungan APCC

Kegiatan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung berjalannya program Sahabat Air dan Sanitasi (SAS) periode ke-8 yang di donori secara penuh oleh Johnson n Johnson. Pada saat kunjungan, para tamu dan SAS berkolaborasi mengerjakan proyek hasta karya dan vertikal garden.

MONEV Periode ke-8 (2016-2017)

Selain sebagai kegiatan Monitoring dan Evaluasi program, Monev kali ini juga digunakan sebagai ajang pertemuan antar seluruh SAS dari 44 sekolah peserta program. Bermacam-macam lomba diadakan untuk semakin mempererat silaturahmi antara sesama anggota SAS.

Pembagian FLYER

Kegitan ini dilakukan dalam rangka memperluas sebaran informasi mengenai program sahabat air dan sanitasi kepada masyarakat sekolah dan sekitarnya. Selain membagikan flyer, SAS juga menjelaskan kepada masyarakat bagaimana caranya melaksanakan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Hasta Karya

Praktek hasta karya adalah salah satu materi ajar yang diberikan pada saat pendampingan dan bertujuan untuk menambah wawasan cara mengatasi masalah sampah dilingkungan sekitar.

Praktek CTPS

Praktek CTPS yang diajarkan kepada SAS diharapkan dapat membantu memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan oleh tangan yang kotor. Dengan hidup sehat, prosentase ketahanan hidup jadi semakin meningkat.

Kampanye SAS

Pelaksanaan kampanye dilakukan sebagai media penyebaran informasi materi program kepada masyarakat sekolah, guna terciptanya perubahan perilaku hidup yang bersih dan sehat serta perilaku ramah terhadap lingkungan.

Memorandum Of Understanding (MOU)

Penandatangan kesepakatan yang dilakukan diawal program oleh seluruh pihak yang berwenang (Forkami, Johnson n Johnson, Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah), bertujuan untuk mengukuhkan dukungan secara penuh terhadap program yang berjalan di seluruh sekolah peserta program.

Rabu, 08 Maret 2017

Cerita Tentang CTPS Bersama Abelita (SAS Kenari 03 Pagi Jakarta Pusat)

Huana Kheysa Abelita atau biasa di sapa Abel, adalah salah satu Sahabat Air dan Sanitasi (SAS) dari SDN Kenari 03 Pagi yang telah menerapkan cara hidup sehat dengan “cuci tangan pakai sabun” (CTPS). Sebelum mengikuti program SAS, siswi kelas 5 SD ini belum terbiasa mencuci tangan secara rutin. Namun setelah mengetahui informasi mengenai cara cuci tangan yang benar serta lima waktu penting melakukannya pada saat pendampingan, Abel mulai menerapkan secara rutin perilaku tersebut tidak hanya disekolah namun juga dirumah.
                          
Abel menyatakan bahwa ia baru mengetahui bahwa ada waktu-waktu penting CTPS setelah mengikuti pendampingan selama menjadi Sahabat Air dan Sanitasi. Waktu-waktu penting yang dimaksud adalah sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain, setelah memegang benda kotor serta setelah memegang hewan piaraan dan kotorannya.
Abel juga mengajarkan cara CTPS ini kepada anggota keluarganya dirumah dan mereka sangat tertarik serta mendukung untuk melakukan hal ini secara rutin dirumah. Dampak dari rutin melakukan CTPS ini, Abel dan keluarga jadi lebih sehat dan jarang sakit dalam waktu yang lama seperti sebelumnya.
                         
Menurut  Abel, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang diajarkan pada program SAS sangat mudah dilakukan, dimulai dari telapak tangan dan diberi sabun, menggosok antara sela jari, lalu dibelakang tangan, gosok juga ibu jari satu persatu kemudian dilanjutkan di belakang tangan, lalu bersihkan kuku dengan mengettukkannya pada telapak tangan, sentuhan terakhir kedua pergelangan tangan lalu bilas dan keringkan. Tahapan-tahapan ini selain langsung dipraktekkan pada saat pendampingan, juga diajarkan dalam bentuk nyanyian yang menyenangkan, sehingga Abel merasa mudah memahami dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan CTPS: Tangan bersih, kuman mati dan tubuh menjadi sehat!


Penandatanganan Nota Kesepakatan Program Sahabat Air & Sanitasi Periode 8 (2016-2017)


Untuk mengukuhkan berjalannya program SAS periode ke-8 (2016-2017) ini, Forkami menyelenggarakan lokakarya penandatanganan nota kesepakatan yang mengundang perwakilan 44 sekolah peserta program, perwakilan dinas pendidikan DKI Jakarta dan Kota Depok, juga pihak Johnson & Johnson selaku donor yang mensponsori jalannya program ini dari awal hingga akhir.
Lokakarya ini diadakan untuk menyamakan pandangan mengenai program hingga masing-masing sekolah mengetahui dengan jelas arah dan tujuan diadakannya program ini selama kurang lebih 6 bulan ke depan dan dapat mendukung secara penuh selama program ini berjalan.
Acara yang diadakan pada Kamis, 3 November 2016 ini bertempat di kantor Kemenkes, Jl. Percetakan Negara no.29 gd.D lt.4 Jakarta Pusat. Para undangan yang terdiri dari para kepala sekolah dan guru pendamping telah mulai memenuhi ruangan sejak pukul  7.30 wib. Tepat pada pukul 9.00 wib acara dimulai dan dibuka oleh perwakilan dinas pendidikan DKI Jakarta, Bapak Wawu sebagai tanda program ini secara aklamasi dan formal telah dibuka dan dapat dijalankan dengan dukungan penuh di 44 sekolah peserta program SAS periode ke-8.
                           
Meskipun perwakilan Johnson & Johnson juga perwakilan dinas pendidikan Kota Depok berhalangan hadir karena satu dan lain hal, namun acar tetap dapat berjalan dengan lancar. Setelah pembukaan program yang dilanjutkan dengan foto bersama, acara berikutnya adalah pemaparan program secara detail kepada seluruh peserta. Paparan tersebut disampaikan oleh Bapak Sutjipto selaku perwakilan dari Forkami. Selain tentang visi dan misi program, juga ditampilkan fakta-fakta mengenai kondisi air dan sanitasi di Indonesia hari ini. Berbagai macam video dan foto mengenai perkembangan program dari periode sebelumnya juga ditampilkan untuk memperkaya gambaran tentang program kepada seluruh perwakilan 44 sekolah peserta program.
                      
Pada akhirnya acara lokakarya ini ditutup dengan penandatanganan nota kesepakatan secara bersama-sama sebagai pengukuhan bahwa seluruh peserta sekolah, Forkami selaku penyelenggara,  dinas pendidikan DKI Jakarta dan kota Depok serta Johnson & Johnson telah sepakat untuk mendukung program ini, agar dapat berjalan sebagaimana mestinya dan memberikan manfaat serta perubahan yang signifikan di lingkungan sekolah masing-masing.
                           




Succes Story dari SDN Pegadungan 11 Pagi Jakarta Barat & SDN Pengadegan 07 Jakarta Selatan


Setelah program SAS periode ke-8 ini selesai, maka tahap keberhasilan program ini selanjutnya akan sangat tergantung dari kesiapan masing-masing sekolah peserta program. Beberapa sekolah telah menyiapkan hal ini dengan mengeluarkan beberapa kebijakan yang mendukung  program SAS sebagai ihktiar pembudayaan perilaku menjaga kesehatan diri dan melestarikan lingkungan. Diantaranya adalah SDN Pegadungan 11 Pagi Jakarta Barat. Di sekolah ini ada beberapa program pendukung SAS seperti :
  • Program Pemilahan Sampah→ pada program ini sekolah menyediakan tiga jenis bak sampah yang dibuat untuk memisahkan sampah organik, anorganik dan B3. Dengan demikian perilaku memilah sampah dapat difasilitasi dengan efektif bersama program ini
  • Grean House & Duta Lingkungan → digagas seiring dengan dicanangkannya program adiwiyata. Pada program ini, ada lima kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan para duta lingkungan dan juga SAS secara sinergis, yakni; pembibitan, penanaman, penyemaian, perawatan dan pemeliharaan tanaman serta budidaya tanaman.
Esensi dari program ini adalah untuk menjadikan sekolah memiliki sumber oksigen yang memadai, bersih dari polusi udara, sekolah menjadi hijau dan segar, nyaman bagi seluruh warga sekolah, sehingga dapat menunjang kegiatan belajar mengajar yang kondusif. Dengan adanya program yang bertujuan menciptakan sekolah sehat ini, maka program SAS terkait sekolah sehat dapat dilanjutkan secara berkesinambungan di sekolah ini.
Selain itu, ada SDN Pengadegan 07 Jakarta Selatan yang juga memiliki kebijakan pendukung program SAS, yakni program “Bawa Bekal Sehat” yang diberlakukan setiap hari kamis. Program ini diadakan untuk membiasakan anak-anak tidak jajan sembarangan dan membawa bekalsehat hingga resiko terkena penyakit akibat jajan sembarangan dan mengkonsumsi makanan tidak sehat dapat diminimalisir. Setiap siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, diwajibkan membawa makanan/ bekal sehat yang mengandung sumber karbohidrat, protein dan vitamin lengkap seperti  nasi, lauk pauk dan sayur mayur. Di awal hal ini agak sulit karena tidak banyak anak-anak yang gemar menyantap sayuran. Namun seiring dengan waktu, pembiasan ini sudah mampu berjalan dengan cukup baik. Anak-anak semakin terbiasa mengkonsumsi sayur mayur dan beraneka jenis makanan bergizi lainnya meskipun masih ada sebagian yang belum bisa mengikuti. Untuk membuat program ini dapat berhasil secara keseluruhan, kekonsistenan pihak sekolah dalam memberlakukan program  harus terus dijaga. Orang tua pun harus ikut turut andil mendukung program ini dengan terus berupaya menyiapkan bekal bergizi bagi anak-anak diluar dari jadwal bekal sehat yang telah disepakati.
               
Program bekal sehat ini pada prakteknya oleh sekolah disinergikan denga program Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang telah diajarkan pada SAS. Sehingga dengan dua poin penting, yaitu bekal sehat dan CTPS, sekolah ini telah berupaya meningkatkan ketahanan hidup siswa didiknya dari segala penyakit yang disebabkan oleh makanan tidak sehat dan tangan yang kotor. Peningkatan ketahanan hidup ini prinsipnya sesuai dengan salah satu tujuan dari dilaksanakannya program SAS di 44 sekolah peserta.
           




Meretas Ketahanan Hidup Melalui Barang Bekas

Dr. Aidan Cronin, Ketua Program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) dari UNICEF Indonesia mengatakan bahwa “sebanyak 88% angka kematian anak akibat diare disebabkan oleh kesulitan mengakses air bersih dan keterbatasan sistem sanitasi.”     
Fakta diatas tentu telah menimbulkan permasalahan bagi keberlangsungan generasi yang akan datang. Air bersih yang sulit diakses salah satunya diakibatkan oleh sumber air yang telah tercemar sampah. Butuh proses yang lama dan mahal untuk dapat menjernihkan air yang telah terkontaminasi. Sementara, generasi kita tidak bisa menunggu untuk dapat terus tumbuh dan berkembang dengan layak dan bahagia.
Merespon hal tersebut dalam program sahabat air dan sanitasi ini, permasalahan sampah juga menjadi bahasan materi tersendiri pada saat pendampingan. Selain mengenal berbagai macam jenis-jenis sampah, SAS juga diberikan informasi bagaimana cara mengolah sampah agar dapat menjadi sahabat yang ramah bagi lingkungan sekaligus dapat meningkatkan ketahanan hidup generasi yang akan datang. Mengapa demikian? Sebab jika lingkungan terbebas dari sampah maka akan semakin kecil kemungkinan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kotor menjangkiti generasi penerus bangsa. Semakin banyak kesempatan anak-anak yang akan hidup sehat dan bahagia sehingga mampu melakukan banyak hal positif untuk dapat meraih cita-citanya.
            
Selain itu, sampah yang serius diolah dengan tepat akan memberikan peluang pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi para generasi penerus bangsa. Barang bekas yang tak dapat lagi hancur  dapat di daur ulang menjadi berbagai macam barang “pakai kembali”  yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dengan daya jual yang cukup menjanjikan. Kita pun telah sama-sama tahu, berapa banyak kisah sukses para pengusaha muda yang telah berhasil menjadikan barang bekas sebagai modal untuk memulai bisnis usahanya bagi kemashlahatan masyarakat.
 
Oleh karenanya, materi hasta karya yang diberikan pada saat pendampingan program SAS ini diharapkan mampu mengurai permasalahan sampah disekitar lingkungannya menjadi ide-ide inovatif yang bernilai ekonomis. Lingkungan bersih, pemberdayaan ekonomi meningkat dan akan semakin tinggi harapan negri ini kelak dipimpin oleh para agen perubahan yang cerdas berprestasi sekaligus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan.